Ketika ku lihat sepasang muda-mudi yg tengah menikah menaiki sepeda setelah menghadiri kajian islam, hati ini brkata:”Kpn ya ana bs kajian brsama wanita yg telah dtakdirkn olehNya?”
Waktu demi waktu ku terus memikirkan hal ini.Tp mngkinkah ada wanita yg ingin mnjd pendamping ana sedangkan ana blm memiliki pekerjaan dan ilmu yg cukup?
Tp ku yakin Allah telah menyiapkn seorang bida2ri yg cantik nan jelita yg hatinya tertaut pada Rabb semesta alam serta sunnah sang uswah, Allah dan RasulNya…Insya Allah…
Wahai Bida2ri tunggu aku …
Tunggu Aku…
Agustus 17, 2009 pada 8:09 am (Uncategorized)
Optimislah…
April 23, 2009 pada 6:28 am (Nasehat)
Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa,
Sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nanti.
Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa tidak dinikmati saja,
Sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa.
Agar Hati Menjadi Lembut
April 23, 2009 pada 6:20 am (Nasehat)
Pertanyaan : Syeikh yang mulia, saya merasakan hati saya keras. sehingga saking kerasnya apabila salah seorang kerabatku wafat saya tidak menangis, saya tidak meneteskan air mata kecuali setelah berusaha keras. apakah kerasnya hatiku seperti ini menyebabkan sholatku tidak diterima? begitu juga dengan puasaku dan amalan-amalan lain. dan apakah ini karena kurangnya keimananku ya syeikh yang mulia. Apakah jika saya bersedekah kepada orang-orang fakir bisa melembutkan hatiku?
Jawaban : Benar, sebagian manusia memiliki hati yang keras tidak ada kelembutan di dalamnya. maka engkau mendapatkannya tidak khusyu’ sekalipun ditimpa musibah yang sangat besar – kita memohon keselamatan kepada Allah – . ya .. hatinya keras bagai membatu atau lebih keras dari batu.
di antara penyebab lembutnya hati membaca Al-Qur’anul Karim. sesungguhnya ia melembutkan hati apabila seseorang membacanya dengan tadaddur dan perenungan berdasarkan firman Allah Ta’ala,
artinya, “Kalau kami turunkan Al-Qur’an ini kepada gunung niscaya engkau melihatnya khusyu’ dan terbelah karena takut kepada Allah”.
di antara perkara yang dapat melembutkan hati; membaca siroh nabawiyyah semoga sholawat yang paling utama dan salam yang paling sempurna senantiasa berlimpah untuk pemiliknya.
membaca siroh nabawiyyah memberikan bekas dan pengaruh yang menakjubkan pada hati. karena seorang itu menjadi ingat dan merasa seolah-olah ia bersama para sahabat sehingga hatinya melembut.
di antara perkara yang dapat melembutkan hati adalah mengasihi anak-anak dan bersikap lembut kepada mereka. sesungguhnya itu melembutkan hati dan memberikan pengaruh yang ajaib pada hati. oleh karena itu Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda,
“Kasihilah yang ada di bumi, niscaya yang dilangit mengasihimu”.
di antara perkara yang dapat melembutkan hati, mendengarkan mau’izhoh dan bait-bait syair yang menghidupkan hati. oleh karena itu engkau dapatkan seseorang apabila mendengarkan bait-bait syair hatinya tersentuh dan matanya menangis.
dan di antara perkara yang dapat melembutkan hati menghadirkan hati dalam sholat. sesungguhnya itu dapat melembutkan hati. kita memohon kepada Allah supaya Dia melembutkan hati kita untuk mengingat-Nya dan melindungi kita dari kerasnya hati”.
( Fataawaa Nuurun ‘Alad Darbi Syeikh Al-’Allaamah Muhamad bin Sholeh Al-’Utsaimin, kaset no. 373)
Siapakah Mahrammu???
Februari 7, 2009 pada 6:40 am (Annisa)
Mahram adalah orang yang haram untuk dinikahi karena hubungan nasab atau hubungan susuan atau karena ada ikatan perkawinan. Lihat Ahkam An-Nazhar Ila Al-Muharramat hal.32.
Adapun ketentuan siapa yang mahram dan yang bukan mahram telah dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 23 :
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاَتُكُمْ وَبَنَاتُ الأَخِ وَبَنَاتُ الأُ خْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاَّتِيْ أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَآئِكُمْ وَرَبَآئِبِكُمُ اللاَّتِيْ فِيْ حُجُوْرِكُمْ مِنْ نِسَآئِكُمُ اللاَّتِيْ دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُوْنُوْا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلاَئِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِيْنَ مِنْ أَصْلاَبِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوْا بَيْنَ الأُخْتَيْنِ إِلاَّ مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللهَ كَانَ غَفُوْراً رَحِيْماً.
“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara perempuan sepersusuan, ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya, (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak-anak kandungmu (menantu), dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuai yang telah terjadi pada masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An-Nisa : 4 / 32).
Etika Syar’i Bagi Perempuan dalam Menuntut Ilmu
Februari 7, 2009 pada 6:33 am (Adab)
Tidaklah diragukan bahwa perempuan sederajat dengan lelaki dalam hal kewajiban menjalankan perintah agama. Dimana kewajiban menjalankan perintah itu mencakup seluruh perintah agama seperti memurnikan tauhid, sholat, zakat, haji, puasa…dan lain sebagainya.
Dan telah dimaklumi oleh setiap muslim dan muslimah bahwa perintah-perintah agama itu memiliki syarat-syarat, rukun-rukun dan ketentuan-ketentuan yang harus terpenuhi sebagai keabsahan sebuah ibadah atau memenuhi kesempurnaannya. Dan tiada jalan untuk memahami dan menjalankan ibadah tersebut sesuai dengan tuntunannya yang benar kecuali dengan cara menuntut ilmu agama.
Rasulullah shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam bersabda,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim.”[1]
Berkata Ibnul Jauzy rahimahullâh, “Perempuan adalah seorang yang mukallaf seperti laki-laki. Maka wajib terhadapnya untuk menuntut ilmu tentang perkara-perkara yang diwajibkan terhadapnya, agar ia menunaikan ibadah tersebut di atas keyakinan.”[2]
Menuju Kemenangan dan Kejayaan Kaum Muslimin (Kado Indah untuk kaum Muslimin Palestina)
Februari 7, 2009 pada 6:25 am (Nasehat)
Nasehat Emas dari Dua Mujaddid Besar Masa Ini
Asy-Syaikh Al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam risalahnya Fiqhul Waqi’ hal 48-50 menjelaskan :
“Sesungguhnya sebab mendasar kehinaan kaum muslimin ialah :
a. Kebodohan mereka tentang syari’at Islam yang Allah turunkan kepada hati Nabi kita Muhammad
b. Mayoritas kaum muslimin telah mengetahui hukum-hukum Islam dalam sebagian urusan mereka, namun mereka tidak mau mengamalkan
Dengan demikian, kunci kembalinya kemuliaan Islam ialah dengan mempraktekkan ilmu yang bermanfaat dan mengerjakan amal shalih. Ini adalah masalah besar yang tidak mungkin dicapai oleh kaum muslimin melainkan dengan menerapkan manhaj At-Tashfiyyah (pembersihan) dan At-Tarbiyyah (pendidikan). Dua hal ini adalah dua kewajiban yang sangat penting dan sangat agung kedudukannya.
Yang saya maksud dengan At-Tashfiyyah adalah beberapa perkara :
Salafiyah dan Politik
Februari 7, 2009 pada 6:08 am (Demokrasi)
Oleh
Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied Al-Hilaly
Sesungguhnya salafiyah meniadakan untuk uluran apa saja kepada Hizbiyah Siasiyyah (gerakan politik) yang menjadikan kekuasaan sebagai tujuan dan bukan sebagai wasilah (perantara), mereka yang berusaha mencapai kekuasaan dengan segala makar, kelicikan dan tipu daya, serta menjadikan Islam sebagai syiar (simbol). Jika mereka telah mencapai apa saja yang diinginkan, merekapun berpaling dari jalan Islam !
Yang demikian itu karena makna politik didalam benak mereka adalah :
Kemampuan memperdaya dan menipu, dan seni membentuk jawaban-jawaban yang bermuatan (politis), serta perbuatan-perbuatan yang mempunyai halusinasi, yang diibaratkan dalam bentuk bejana yang diletakkan didalamnya baik itu warna, rasa dan baunya.
Demokrasi dan Pemilu
Februari 4, 2009 pada 3:15 am (Demokrasi)
Oleh
Syaikh Al-Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Syaikh Al-Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i
Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kita memujiNya, memohon pertolongan dan berlindung kepadaNya dari keburukan diri kita dan kejelekan amalan kita, siapa yang diberi petunjuk oleh Allah niscaya dia akan tertunjuki, sedang siapa yang disesatkan Allah tiada yang mampu memberi petunjuk kepadanya.
Saya bersaksi tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Amma ba’du
Sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian dari para ulama supaya mereka menjelaskan kepada manusia tentang apa-apa yang diturunkan kepada mereka (syari’at ini), Allah berfirman.
Artinya : Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu) : “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya” [Ali-Imron : 187]
Baca entri selengkapnya »
Bahaya Prinsip Toleransi Ikhwanul Muslimin
Februari 1, 2009 pada 4:11 am (Toleransi)
Al-Ustadz Muhammad Umar As Sewed
Firqah Ikhwanul Muslimin memiliki prinsip yang terus didendangkan oleh para tokoh dan pengikut-pengikutnya yaitu prinsip:
“Nata’awanu fii mattafaqna ‘alaihi wa ya’zhuru ba’dhuna ba’dhan fii mahtalafna fiihi”
(Kita saling tolong menolong dalam apa yang kita sepakati dan kita saling toleransi sebagian kita terhadap sebagian yang lain dalam apa yang kita berbeda).
Prinsip ini Perlu Rincian
Prinsip ini terlihat enak didengar di telinga orang-orang awam. Namun ternyata prinsip ini mengandung efek yang sangat berbahaya yaitu matinya kaidah dasar Islam yang sangat besar yaitu amar ma’ruf nahi mungkar. Karena kalimat di atas sangat umum sifatnya, tidak dirincikan dalam perbedaan yang mana kita memaklumi dan perbedaan yang mana yang kita tidak boleh memakluminya.
How to believe in the Attributes of Allah
Januari 31, 2009 pada 3:29 am (Aqidah)
Tags: English
Text
And it is from eemaan in Allaah to have eemaan in what Allaah has described Himself with in His Book and in what His Messenger (sallallaahu alayhi wasallam) has described Him with, without changing the original meaning [of these texts] (Tahreef), without denying such attributes for Allaah (Ta’teel), without enquiring into their true nature (Takyeef) and without likening [His attributes] to those of the creation (Tamtheel).
Explanation
After the author (rh) mentioned, in a general way, the fundamental principles, having eemaan in which is obligatory, he mentions them in a detailed and elaborate way. He commences with the first foundation and that is having eemaan in Allaah, the Exalted. He says that included in this pillar is to have eemaan in His attributes with which He has described Himself in His Book or which His Messenger (sallallaahu alayhi wasallam) has described Him with in his Sunnah. This can only occur if we establish and affirm such attributes for Allaah in the precise way they have come in the Book and the Sunnah, with the same words and intended meanings, without changing the words used for these attributes, denying their meanings, likening them to those of the creation and enquiring into their true nature. Furthermore, this only occurs if we depend upon the Book and the Sunnah. We do not go beyond the Qur’aan and the Hadeeth since they restrict (the use of whatever is besides them such as intellect and other such matters).













